Jumat, 01 Mei 2015

Resensi Novel 'Not A Perfect Wedding'


Not A Perfect Wedding
Penulis: Asri Tahir
Penerbit: ElexMedia Komputindo
Harga: Rp. 64.000,-
Blurb:

Raina Winatama: Di hari pernikahanku,
aku kehilangan mempelaiku. Bukan
karena dia melarikan diri. Tapi dia pergi
untuk selamanya.
Prakarsa Dwi Rahardi : Di hari
pernikahanku, aku kehilangan
mempelaiku. Bukan karena dia
melarikan diri. Tapi aku harus pergi
untuk selamanya.
Pramudya Eka Rahardi : Di hari
pernikahan adikku, aku harus menjadi
mempelai laki-laki. Menjalankan sebuah
pernikahan yang harusnya dilakukan
oleh adikku, Prakarsa Dwi Rahardi.
Editor’s Note
Pernikahan yang indah adalah impian
setiap orang di dunia ini. Tapi
bagaimana jadinya kalau akhirnya Anda
harus menikah dengan orang yang
sebelumnya bahkan tidak pernah Anda
temui?
Not A Perfect Wedding menghadirkan
fakta bahwa belajar mencintai adalah
satu-satunya cara. Tidak ada yang tidak
mungkin. Ketulusan seseorang akan
mengalahkan kekerasan hati, ketulusan
dan cinta akan membalut luka dan
menyembuhkannya. Not A Perfect
Wedding akan menunjukkan caranya
bagi pembaca.
**
Waktu pertama kali baca blurb novel ini rasa penasaran mengusikku. Seperti apa dan bagaimana nanti pernikahan yang bahkan belum mereka bayangkan sebelumnya? Kaku.
Tebakanku seperti itu. Lalu rasa penasaran saya meningkat sejak menonton trailer book novel ini. Mengharukan sekali sampai aku benar-benar yakin harus menjadi bagian dari perjalanan kisah mereka nanti. Belum lagi soal kematian mempelai laki-laki... Penasaran saya semakin meraja lela...
Ketika saya membacanya pun, saya menyukai tutur bahasa penulis yang mengalir. Namun hanya satu yang bikin saya merasa janggal. Yaitu mengenai kematian Raka dan proses pemakaman yang begitu kilat. Saya merasa aneh aja, emang ada ya... yang kayak begitu? Ketika salah satu keluarga pergi untuk selamanya masih memikirkan soal pernikahan? Kan bisa ditunda kapan-kapan. Apa salahnya memberitahukan pengantin wanita bagaimana keadaan pengantin pria sesungguhnya. Bahkan logika saya kirang menerima hal ini.
Namun... hal itu termaafkan dengan paragraf-paragraf setelahnya. Saya yakin dan percaya bahwa penulis punya alasan yang kuat mengapa alurnya seperti itu. Lagi-lagi soal pengemasan... Saya menyukai cara bertutur penulis yang mengalir.
Pada bagian awal sampai pertengahan saya merasa jatuh cinta pada Pram yang sebegitu bertanggung jawabnya terhadap Raina. Saya menyukai Pram yang hangat. Namun... Lagi... Saya merasakan perubahan sikap Pram dari hangat menjadi genit. Saya merasa sedikit kecewa. Hingga di bagian akhir saya banyak menskip karena merasa narasi-narasi yang tersaji berbentuk pengulangan dari narasi bab bab berikutnya.
Endingnya manis, tapi terlalu cepat buat saya. Lompatannya terlalu cepat juga. *peace
Pesan yang saya tangkap dari novel ini adalah... Bahwa manusia tetaplah manusia. Yang hanya bisa berencana tapi penentu mutlaknya hanyalah Tuhan.
Bravo buat cerita manisnya, mbak Asri. Saya kasih empat bintang dari lima. Sebenarnya bisa full, kalau saja karakter mas Pram ga berubah dari hangat jadi genit. Ah mas Pram... Suaramu di trailer book nya menggetarkan jiwaku... *semoga setelah membaca ini saya ga dibully penggemar berat mas Pram.

4 komentar:

  1. Beuh.., vivi pengen nikah.. >.<
    Deuh.., itu cowok idaman saya.. Pram. Oh.. pria yang begitu bertanggung jawab kepada wanita. Pasti di ceritanya nggak pengen ceweknya kenapa-kenapa. So sweet...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Emang kamu gamau nikah Vin? #eeeaaakkk

      Hapus
    2. Mauk.... Hahahahah Kepengen udah.. Kebelet. Wkwkwkw

      Hapus
    3. Kebelet nikah... Kebelet nikah... Kebelet nikah papa... *nyanyi

      Hapus

Jangan malu- malu untuk berkomentar. Silahkan berikan komentar terbaik anda ^_^ Xie Xie Ni