Sabtu, 23 Mei 2015

(Resensi) MISTERI PATUNG GARAM

Jangan Menengok Ke Belakang!

Penulis : Ruwi Meita
Penerbit : Gagasmedia
Tahun Terbit : 2015
ISBN : 979-780-786-X
Jumlah Halaman : 278 Halaman
Harga: Rp. 49.000,

BLURB

Dia sangat sadis. Dan, dia masih berkeliaran.Seorang pianis ditemukan mati, terduduk di depan pianonya, dengan bibir terjahit.Bola matanya dirusak, meninggalkan lubang hitam yang amat mengerikan.Rambut palsu merah panjang menutupi kepalanya. Sementara, otak dan organ-organ tubuhnya telah dikeluarkan secara paksa.Kulitnya memucat seputih garam. Bukan, bukan seputih garam. Tapi, seluruh tubuh sang pianis itu benar-benar dilumuri adonan garam.Kiri Lamari, penyidik kasus ini, terus-menerus dihantui lubang hitam mata sang pianis. Mata yang seakan meminta pertolongan sambil terus bertanya, kenapa aku mati?  Mata yang mengingatkan Kiri Lamari akan mata ibunya. Yang juga ia temukan tak bernyawa puluhan tahun lalu.Garam? Kenapa garam?Kiri Lamari belum menemukan jawabannya. Sementara mayat tanpa organ yang dilumuri garam telah ditemukan kembali….Dia sangat sadis. Dan, dia masih berkeliaran
----

Pertama kali melihat kaver novel ini perasaan saya mengatakan harus membelinya. Apalagi tau genre-nya adalah misteri thriller detektif. Genre yang paling saya suka. Judul novel ini begitu menjual menurut saya, "Misteri Patung Garam", dan kisah polisi cerdas seperti ini selalu menjadi idaman saya. Bahwa seperti itulah seorang polisi seharusnya. :)

Berkisah...
tentang seorang Kiri Lamari, seorang polisi yang ditugaskan khusus untuk kasus-kasus pembunuhan. Karir seorang Kiri bermula pada sebuah kasus pembunuhan 3 orang yang dimutilasi dan dimasukkan ke dalam arung berlabelkan segitiga biru. Dari situlah ia berkenalan dengan Kenes yang kemudian menjadi kekasih paling disayangi. *tsaaahh...

Kasus pembunuhan yang membuatnya harus pindah dari Jogja ke Surabaya adalah sebuah pembunuhan yang mana korbannya dijadikan sebuah 'Patung Garam'. Salah satunya seorang pianis terkenal, muda dan berbakat. Unik sekali, pembunuhnya sangat rapi membedah dan mengeluarkan organ-organ korban dan mengeluarkan 'otak' dengan cara yang keji. Pembunuh tersebut diduga adalah seorang psikopat. Dengan jejak gambar seperti sarang laba-laba dan simbol berupa simbol yang sulit dipecahkan oleh Kiri.

Belum selesai perkara pembunuhan seorang Pianis tersebut, korban lain ditemukan di lain tempat. Kali ini seorang pelukis yang juga dibunuh dan dijadikan patung garam. Kiri semakin tertantang, saat itulah ia menemukan brosur Pameran Patung Garam yang tak lain pematung tersebut adalah seorang teman baik korban kedua, Rahardian Maruti. Kiri memulai penyelidikan dan ternyata si pematung tersebut tengah berada di Singapur saat pembunuhan sahabatnya itu terjadi.

Alih-alih menemukan tersangka lainnya, Kiri menyelidiki asal-usul keluarga Rahardian. Bersama Inspektur Saut ia ke Solo untuk menemukan masa lalu Rahardian dan kenapa ia bisa begitu mencintai dan mengetahui detail Garam.
Lalu mampukah Kiri membuktikan Rahardian adalah tersangka? Jika Rahardian pelakunya, apa motifnya, sebab dua dari korbannya bukan siapa-siapa bagi Rahardian. Benarkah Rahardian yang membunuhnya, atau ada orang lain?
Review
Membaca novel ini membuat saya merasa menonton sebuah film Thriller Detektif Box Office yang begitu memacu adrenalin. Cara si pembunuh mengeluarkan organ bahkan otak korban membuat saya bergidik. Bahkan ini lebih mengerikan dari kasus 'Ryan Jagal' menurut saya. Penuturan penulis begitu mengalir, pemilihan kosa katanya begitu cerdas, tema yang diusung pun begitu brilian sehingga saya nggak bisa melepaskan novel ini jika belum benar-benar tahu siapa pembunuhnya. Akhirnya novel ini membuat saya berujar, 'Jika suatu saat saya jadi sutradara tolong ingetin saya buat ngangkat novel ini ke layar lebar' ahiiiyyy... Ngayal dulu yak. Siapa tau aja novel ini emang udah beneran mau diangkat ke layar lebar. Satu catatan bagi saya, meskipun 'Misteri Patung Garam' nggak bermain dengan banyak narasi, eksekusinya tetap keren. Salut buat mbak Ruwi Meita yang mampu menyatukan sebuah thriller dengan rasa cinta dan kekeluargaan. Novel ini membuat saya menitikkan airmata. Jika bisa lebih, saya kasih bintang 10 buat novel ini.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jangan malu- malu untuk berkomentar. Silahkan berikan komentar terbaik anda ^_^ Xie Xie Ni