DON’T LET ME..
ZOMBIE GIRL
Malam adalah siang..
Siang adalah Malam..
Terkadang Raja heran melihat kondisi tempat tinggal
barunya ini. Sepi. Semua penghuni tidak saling menyapa. Mereka menutup pintu,
keluar dan masuk. Apa mungkin karena terlalu pagi, dan mereka masih repot
dengan kesibukan masing- masing?
Setelah menemui Tante Farah, Raja masuk kembali ke
kamarnya. Bersiap- siap untuk kuliah. Hari masih begitu pagi untuk berangkat ke
kampus, sehingga ia masih bisa berlambat diri.
KREEEKK!!
Daun pintu Raja berdecit. Agak risih sih, tapi mau
bagaimana lagi.
Raja melirik ke kamar sebelah. Tidak ada tanda- tanda kehidupan.
Mungkin penghuninya masih tidur. Raja jadi ingat kejadian kemaren.
“Cewek itu mau nggak ya, maafin gue?” batin Raja.
Raja berbalik. Hampir saja ia pingsan mendapati sosok
besar di depannya.
“Kamu kira Tante hantu?” ujar tante Farah senewen.
Mungkin ia tersinggung melihat ekspresi Raja barusan.
“Maaf Tante. Habisnya Tante nongol tiba- tiba sih.”
Ujar Raja membela diri. “Apa kesepakatan tadi masih kurang, Tante?” tanyanya.
“Tante rasa semuanya sudah clear! Perlu kamu tau,
setiap pagi Tante patroli memeriksa kebersihan setiap kamar.”
“Oooh..” Raja menganggukkan kepalanya berulang- ulang.
Sedikit demi sedikit Raja mengerti peraturan di tempat tinggal barunya meskipun
pemiliknya tak menjelaskan secara tertulis.
“Kamu mau kuliah?” Tante Farah melirik tas Raja lalu
kembali mengibas- ngibaskan kipas biru kesayangannya.
“Iya Tante.” Sahut Raja “Oh ya Tante, penghuni kamar
ini udah pergi sekolah yah?”
Tante Farah geleng kepala. “Masih tidur! Kenapa?”
tanya Tante Farah dengan gaya khasnya.
“Nggak apa- apa, tante. Cuma heran aja. Beneran masih
tidur, Tante? Cewek kok jam segini belum bangun ya?”
Selain aneh, ternyata cewek itu nggak bisa bangun
pagi.
“Buat dia, siang adalah malam, malam adalah siang.”
Ujar Tante Farah dengan gaya khasnya.
HAH?
Raja masih belum mengerti dengan ucapan Tante Farah
barusan. Siang ya siang, malam ya malam. kok bisa sih diganti- ganti begitu?
“Lama- lama kamu juga akan tau. Sudah sana kuliah!”
Tante Farah melenggok menjauhi Raja. Tubuh gembulnya membuat
langkah Tante Farah sedikit lambat. Raja sendiri sampai tersenyum kecil saking
geli melihat lenggak lenggok Tante Farah.
**
Raja menelangkupkan kepalanya ke atas meja. Dosen
belum datang, rasa kantuk mulai menyerang, dan yang lebih parahnya lagi kelas 1A
mendadak seperti pasar. Raja teringat kelasnya waktu SMA. Sama seperti sekarang
ini, kalau nggak ada guru ya ricuhnya minta ampun. Yang cewek pada ngerumpi ini
itu, yang cowok juga nggak kalah ngomongin ini dan itu. Tapi tetap saja ada
bedanya.
Hampir saja Raja terlelap, suara Ari malah berisik dan
berhasil membuat hasrta ingin tidurnya Raja hilang. Ari baru masuk kelas, langsung
heboh memberitahu kabar casting iklan ke Raja.
“Raja, ada casting nih!” ujar Ari memberitau sekaligus
membuat heboh anak- anak yang lain.
“Casting apaan, Ri?”
“Casting iklan minuman. Tuh brosurnya ada di mading..”
Sebagian anak- anak yang ikutan heboh mendengar
pengumuman dari Ari langsung keluar, sebagian lagi malah santai- santai aja.
Mungkin mereka kurang tertarik dengan casting iklan tersebut.
“Raja, lo nggak tertarik? Lumayan kan buat batu
loncatan. Siapa tau setelah nongol di iklan ini, bakalan ada produser yang
ngontrak kita main sinetron. Nih, gue bawain brosurnya buat elo.” Ari
menyerahkan lipatan kecil pada Raja.
Raja diam sambil memperhatikan isi dari brosur casting
iklan itu. “Masih 3 hari lagi ya?”
Ari mengangguk, lalu ia duduk di samping Raja sambil
mengeluarkan buku tulisnya. “Kalau lo mau ikutan bareng gue aja!”
“Oke.” Raja mengacungkan jari jempolnya.
“Eh gue pinjem catatan punya lo, dong.”
Raja mengambil buku catatan yang diminta Ari dari
ranselnya. Kemaren, Ari absen satu mata kuliah, jadi wajar Ari meminjam
catatannya.
Sembari menunggu Ari menyelesaikan catatannya, Raja meminjam
laptop Ari dan mengutak- atiknya. Raja melihat foto- foto narsis Ari yang
tersimpan rapi di laptop dan sesekali mendengarkan lagu yang tersimpan di dalamnya.
**
Raja memparkirkan mobilnya tepat di depan kamar
kosannya. Baru saja Raja membuka pintu mobil, cewek yang menghuni kamar no 6
keluar dengan wajah yang awut- awutan. Tubuhnya kelihatan lemas, kentara sekali
kalau cewek tersebut baru saja bangun tidur. Cewek yang aneh, pikir Raja.
Seumur hidup, Raja baru tau kalau ada cewek yang bangunnya jam 1 siang.
Perlahan, Raja mendekati cewek itu. Bukan bermaksud
apa- apa. Raja hanya ingin meminta maaf pada cewek itu perihal jatuhnya amplop
miliknya kekubangan kemaren. Nggak enak juga kan kalau tetanggaan saling diam.
Yah, Raja juga ingin berkenalan dengan cewek itu sembari mencari teman satu
kosan.
“Cari siapa?” ujar cewek itu sambil mengikat rapi
rambutnya.
“Cari elo.” Ujar Raja dengan senyum simpul.
Kening cewek itu mengerut. Mungkin heran.
“Ada perlu apa lo sama gue? Gue kan nggak kenal sama
lo.” nada bicara cewek itu sedikit jutek.
Raja mesti super lembut untuk menuturkan tujuannya,
sepertinya cewek itu nggak mengingatnya sama sekali.
“Perihal amplop lo yang kemaren itu. Beneran, gue
nggak ada maksud buat ngagetin elo.. Gue..” saking seriusnya, Raja sampai
mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya.
“It’s Oke.” Cewek itu mencopot kacamatanya dan
membersihkannya dengan jari- jari mungilnya lalu kembali memakainya.
Ternyata cewek itu nggak lupa dengan kejadian kemaren
sore. Yang membuat Raja berlega hati adalah ketika cewek itu mau memaafkannya.
“Jadi lo maafin gue?” Raja hanya ingin memastikan.
Cewek itu mengangguk, lalu berbalik. Sepertinya cewek
itu ingin kembali ke kamarnya.
“Boleh tau nama lo nggak?”
Pertanyaan Raja barusan membuat cewek itu berhenti
tepat di depan pintu kamar. Cewek itu berbalik dan mengatakan “Yang lo perluin
maaf gue kan? Bukan nama gue!”
Wow! Raja terperanjat mendengar kata- kata itu.
Seperti ada palu besar yang memukul kepala Raja saat itu juga.
Tuing! Tuing! Tuing!
Baru kali ini ia mati kutu di depan cewek. Masa
kenalan aja nggak boleh sih, batin Raja.
Cewek itu menutup pintu kamarnya dan membiarkan Raja
tetap berdiri di depan kamarnya. Terserah deh mau apa lagi yang dilakuin Raja
di depan kamarnya.
Baru saja Raja membuka kakinya selangkah, Tante Farah datang
dengan gaya berjalannya yang khas. Mengibaskan kipas biru kesayangannya sambil
membawa amplop besar. Tante Farah berhenti di depan kamar no 6 dan mengetuknya.
Mengabaikan Raja yang masih berdiri rapi di depan kamar yang sama.
TOK! TOK! TOK!
“Caca…” panggil Tante Farah sambil mengetuk pintunya
berulang kali.
Raja tersenyun tipis. Akhirnya, tanpa diberitahupun,
Raja tau siapa nama cewek itu.
“Caca.. Buka pintunya..” panggil Tante Farah lagi.
CTEK!
Caca membuka pintu kamar, dan melihat Tante Farah sudah
berdiri di depan kamarnya. “kenapa, Tan?”
“Ini titipan buat kamu.” Sebelum Tante Farah
menyerahkan amplop besar itu ke Caca, Tante Farah sempat mengibas- ngibaskan
kipas birunya beberapa kali.
“Kok bisa sama Tante?” tanya Caca sembari menerima
amplop berwarna kuning itu dari Tante Farah.
“Kata tukang Pos, kamu dipanggilin beberapa kali nggak
denger. Jadi nitip ke Tante deh. Sudah yah, Tante masih sibuk!” Tante Farah
berbalik dan baru sadar kalau Raja ada di belakangnya daritadi. “Raja, kamu
ngapain di depan kamar Caca?”
Caca ikut menengok dengan tatapan kurang senang.
Mungkin karena Caca merasa terganggu melihat Raja berada di depan kamarnya.
“Ooohh.. Jadi namanya Caca ya Tante..” Raja
mengangguk- anggukkan kepalanya beberapa kali sambil melirik ke Caca.
Tatapan mata Raja seperti menyindir Caca yang tadi
keukeuh nggak mau menyebutkan namanya.
**
Dingin malam membuat satu selimut saja nggak cukup
menghangatkan tubuh Raja. Sudah memeluk guling seerat- eratnya, namun dingin
belum juga berubah menjadi hangat. Raja menggigil, rasa kantukpun tiba- tiba
hilang. Raja nggak bisa lagi menutup matanya dan melanjutkan mimpinya. Ia duduk
dipinggiran kasur dengan selimut yang masih membalut tubuhnya. Tangannya masih
merasa dingin. Raja beralih ke jendela, untuk menutup gorden yang lupa ia turunkan.
Raja berasumsi, mungkin gorden ini yang mengakibatkan cuaca malam ini bertambah
dingin.
Samar- samar Raja melihat seseorang di pos satpam.
Raja melihat jam dindingnya. Pukul 1. 43 Wib. Larut malam begini, siapa yang
duduk di pos satpam? Raja yakin seseorang itu bukan satpam. Kata Tante Farah,
Satpam yang bertugas lagi pulang kampung menjenguk anaknya yang sakit. Belum
ada Satpam sementara yang menggantikan Satpam lama cuti.
KREEEKK!!
Untuk mengurangi rasa penasarannya, Raja keluar kamar.
Dengan selimut yang masih membalut tubuhnya, Raja keluar untuk mengecek sendiri
siapa seseorang yang mengganggu pikirannya. Hal- hal negatif pun muncul begitu
saja dipikiran Raja. Takut- takut ada maling yang mengintai. Mana mungkin ada
penghuni kamar lain dijam selarut ini belum tidur. Kalau bukan maling, siapa
lagi.
Semakin lama semakin ketahuan sosok yang dengan
santainya duduk di pos satpam tersebut. Raja malah kurang percaya bahwa yang
dilihatnya itu adalah tetangga kamar sebelah.
Caca belum sadar kalau Raja mendekatinya. Ia malah
sibuk dengan laptopnya. Sesekali menyeruput segelas kopi yang berada di samping
laptopnya.
“Lo belum tidur?”
Caca mengalihkan pandangannya dari layar laptop. Mungkin sedikit kaget mendengar Raja
yang tiba- tiba datang dan mengganggu kesibukannya.
“Lo kenapa belum tidur?” Caca menghentikan tarian-
tarian jemarinya.
Raja duduk di bangku sebelah kiri meja Satpam. Ia
belum menjawab, malah mempererat balutan selimutnya.
“Jadi ini yang dibilang Siang adalah malam, malam adalah
siang? Gue baru ngerti. Lo insomnia?” tanya Raja ingin tahu. Sesekali Raja
mengigil karena semakin lama udara di Pos Satpam membuatnya semakin kedinginan.
“Tante Farah yang bilang sama lo?”
Raja mengangguk. Tidak ada alasan untuk menyembunyikan
siapa yang mengatakan hal itu kepadanya. Lagipula, bukan perkataan yang buruk
kan?
“Jam segini memang bukan jam tidur gue. Biasanya
setelah subuh baru gue tidur. Lo kenapa nggak tidur?”
“Nggak tau. Lo nggak kedinginan? Gue mengigil begini
lo malah santai.” Raja heran, kenapa Caca nggak seperti dirinya yang meskipun sudah berbalut selimut masih
saja mengigil kedinginan. Sedangkan Caca, hanya mengenakan baju tidur apa sudah
hangat.
“Gue minum kopi hangat. Nih!” mata Caca melirik ke
sebelah kiri laptopnya. Segelas besar kopi hangat yang sudah setengah habis.
Bibir Raja membulat. Ternyata itu rahasianya? Ya
pantasan saja nggak mengigil. “Lo penulis?” tanya Raja yang sempat melirik
layar laptop caca yang masih menyala.
Caca nggak menjawab, tapi anggukannya sudah cukup
membuat Raja puas.
“Penulis yang sering begadang, nggak baik loh buat
kesehatan.” Ujar Raja memperingatkan.
“Habis mau gimana lagi? Kalau malam itu ide terus
jalan. Kalau siang malah ngebuntu..” terang Caca dengan senyum simpul.
“Tapi nggak selarut ini kan?”
Caca nggak merespon. Ia diam dan menatap layar
laptopnya.
“Eh, maaf ya kalau gue jadi sok tau begini.” Raja
limbung. Setengah malu karena sadar, ia dan Caca belum seberapa kenal, jadi
nggak semestinya ia berkomentar sok tau.
“Nggak apa- apa.” Caca malah tersenyum ke Raja yang
limbung. “Nama lo Raja kan?”
Raja mengangguk cepat. “Raja Raditya..”
“Gue Marsha. Marsha Rania, tapi lebih banyak yang
manggil gue Caca sih.”
“Pasti panggilan waktu kecil kan?”
Caca mengangguk.
“Hhhmm, lo mau nggak jadi temen gue di kosan ini?”
tawar Raja. Rasanya aneh banget kalau di kosan yang besar ini Raja belum punya
satu temanpun.
“Why not?”
Raja senang mendengar jawaban Caca barusan. Raja
lantas bangkit dari tempat duduknya untuk menjabat tangan Caca yang sudah
bersedia menjadi teman barunya. Sedikit berlebihan sih, tapi begitulah Raja.
Dulu Raja juga begini sewaktu pertama kenal dengan Ari.
“Haduh, nggak perlu pake salaman juga kali.. Norak
banget sih!” kata Caca memprotes kelakuan Raja.
“Oh maaf.” Barulah Raja melepaskan tangannya. “kalau
gitu gue masuk deh. Makin lama makin dingin aja kayaknya.”
Setelah Caca menganggukkan kepalanya, barulah Raja
berbalik.
PRRAANNGG!!
Raja kembali berbalik dan melihat benda apa yang
jatuh. Ternyata selimutnya membawa petaka baru. Tanpa sengaja selimutnya
menyambar gelas Caca, dan pecah. Caca speechless melihat kopinya tumpah dan
gelasnya pecah berantakan. Yang lebih parahnya lagi, handphone Caca yang tadi
tergeletak manis disamping kopipun ikut- ikutan jatuh dan rusak.
“Handphone gue…”
TO BE
CONTINUED…
**
Oleh : Vivie
Hardika SS..
Jangan lupa tinggalkan kritik dan saran yah! Ke Hardika_cungkring@yahoo.com
juga boleh kok. Apalagi ke akun facebook aku ‘Vivie Hardika Cungkring’. Tapi
ingat, nggak boleh Copas.. Oke..
Xie xie Ni J
Udah baca. \m/
BalasHapusBtw, ini apa, vie? Calon novel? Kan sayang dipublish di blog? >.<
Iya mbak calon.. Nggak apa- apa deh mbak.. Biar tau gimana respon pembaca :)
BalasHapusSeru :) lagi-lagi...
BalasHapusSabar ya :) Hehehe
BalasHapus