Setelah sebulan penuh menjalani ibadah puasa Ramadhan, seluruh umat muslim di dunia merayakan hari kemenangan yang biasa disebut dengan Lebaran atau Idul Fitri. Takbir yang bertalu-talu sejak usainya sholat Isya hingga esoknya menjelang sholat Ied. Dan harapan ingin kembali dipertemukan oleh Ramadhan tahun depan terus digumamkan. Hal yang paling sakral dalam perayaan lebaran sudah tentu ‘sungkeman’ di mana setiap orang mengharapkan maaf dari kerabat, teman atau tetangga agar dapat kembali menjadi suci. Seperti sebuah kertas kosong yang dapat kembali dicoret dengan goresan-goresan yang lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya.
Tak sedikit pula dari kita yang merasa lebaran yang kita jalanin tahun ini lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Begitu juga denganku. Lebaran kali ini terasa lebih baik dari lebaran sebelumnya. Jika dirunut, banyak sekali hal yang berubah tahun ini.
Seperti:
1. More Excited
Lebih dari sebelas tahun, semenjak Kakek
meninggal saya tidak begitu antusias dengan hari lebaran. Penyebabnya hanya
satu, segalanya berubah sejak kakek meninggal. Keluarga besar yang ketika saya
kecil berkumpul ramai pun tak ada lagi. Itu kenapa selama itu saya tidak
begitu antusias dengan datangnya
lebaran. Tidak ada kakek, berarti tidak ada kumpulan keluarga besar, juga THR.
*abaikan alasan terakhir
Tahun ini, saya seperti merasa lebaran tahun ini
adalah lebaran pertama saya. Detik-detik terakhir ramadhan saya mulai merancang
hal apa saja yang akan saya lakukan ketika lebaran. Setelah melaksanakan Sholat
Ied saya langsung melakukan ritual penting lebaran, sungkem kepada Momi juga
Popi. Setelahnya mengunjungi keluarga di sekitar rumah yang lebih tua seraya
menikmati hidangan khas lebaran. Berbincang-bincang meski harus sedikit bad mood dengan pertanyaan ‘kapan
nikah?’ tapi saya menikmati momen bersama keluarga dan sahabat saya di tahun
ini.
Halal bi halal dengan sohib tercintah |
Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya yang selalu malas untuk keluar rumah. Di tahun-tahun sebelumnya saya menganggap lebaran itu seperti hari lain, yang mana kita bisa meminta maaf setiap hari tanpa harus menunggu hari sakral ini. Sekarang saya menyadari bahwa meminta maaf bisa setiap saat, tapi meminta maaf ‘sungkem’ disaat lebaran terasa begitu spesial. Saya merasa ada yang ‘plong’ di dalam hati, hingga di hari berikutnya dapat menjalani hari-hari tanpa beban akan ‘oh lebaran kemarin saya nggak minta maaf’.
Benar kata orang, kita seperti terlahir
kembali. #aseekkk
2. Mengenakan Pakaian Baru
Sewaktu kecil, Momi akan membelikan baju baru ketika lebaran menjelang. Sehingga saya beranggapan, membeli baju baru saat lebaran hanyalah kebiasaan yang kekanak-kanakan. Sementara saya sudah ‘tua’, bisa beli baju baru kapan saja. Bila punya uang berlebih, bisa setiap hari kan? Tidak harus menunggu lebaran, kan?
Ternyata… anggapan saya itu tidak seratus
persen benar. Memang membeli baju baru tidak mesti menunggu lebaran, namun
mengenakan pakaian baru dan bersih di hari lebaran termasuk dalam salah satu
sunah Rasul.
Abdullah bin Umar Radhiallahu anhuma berkata.
“Umar Radhiyallahu anhu mengambil sebuah jubah dari sutera yang dijual di
pasar, lalu dia mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian
berkata, “Wahai Rasulullah, belilah jubah ini dan berhiaslah dengannya untuk
hari raya dan menyambut tamu.’ Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda, ‘Sesungguhnya ini adalah pakaian orang yang tidak mendapatkan bagian
(di Hari Kiamat).”
Aku dan baju baruku tahun ini |
Dan lebaran tahun ini saya pun mengenakan baju baru, seperti yang telah disunahkan Rasulullah. Seraya bergumam, semoga lebaran tahun depan saya dapat melaksanakan sunah-sunah Rasul lainnya ketika Idul Fitri.
3. THR
Angpau buat sepupu-sepupu yang masih kecil |
Sudah tidak heran lagi kalau diumur ‘setua’ sekarang THR bukan lagi bagian dari lebaran. Tapi tahun ini, saya seperti merasa mendapatkan apa yang telah hilang di tahun-tahun sebelumnya. Saya mendapatkan THR lagi dengan nominal yang tidak pernah saya raih sebelumnya. Yeay! Sehingga saya pun bisa kembali membagikan THR dan sebagian rezeki saya kepada sepupu-sepupu saya yang rata-rata masih sangat kecil-kecil. Meski jumlahnya tidak banyak, setidaknya tahun ini saya sudah memberikan THR meski gaji saya belum tetap perbulannya.
Begitulah cerita
lebaran saya yang terasa lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Ternyata jika
kita menikmati Lebaran dengan suka cita, maka kita akan merasa bahagia. Dan
semoga tahun-tahun berikutnya lebaran saya bisa lebih baik dari tahun ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Jangan malu- malu untuk berkomentar. Silahkan berikan komentar terbaik anda ^_^ Xie Xie Ni