Selasa, 01 Agustus 2017

Kalau Sudah tidak Bahagia untuk Apa Bertahan?

Hasil gambar untuk bunga deasy




"Kalau udah nggak bahagia, untuk apa bertahan?"

Aku hampir mati terkejut mendengarnya. Andri berdiri tepat di belakangku.

"Aku nyesel pernah ngomong kayak gitu ke kamu, An."

Aku mengerut dahi. Aku ingat sama kalimat itu dulu, tapi yang nggak kumengerti kenapa Andri bilang dia nyesal?

"Kenapa?" tanyaku seraya berbalik, menatap wajah yang katanya menyesal itu.

"Karena kamu jauh lebih nggak bahagia setelah pisah dari dia,"

Aku terdiam untuk sesaat. "Sok tau!"

Lantas dia tertawa, mengeceku seolah-olah aku sedang berusaha berkilah.

"Kalau kamu bahagia, kamu nggak mungkin sering ke tempat ini buat nangis,"

Sial! Dia bener, lagi!  Harus ngeles gimana nih?



Andri mensejajariku, ikut menatap kendaraan-kendaraan yang melambat lewat jendela kecil di exit
gedung kantor,

"Dulu, mata kamu selalu punya binar kalau nyeritain dia. Even itu hal kecil, dia cuma ngusap kepala kamu, kamu selalu bercerita penuh semangat. Dan kamu terus mengulang cerita yang sama sampe aku bosen. Sekarang,"

Aku masih saja membeku. Nggak tahu harus membalas omongan Andri dengan kalimat apa?

"Aku jadi tahu kenapa kamu males ketemu aku. Kamu pasti takut aku tanya-tanya soal dia lagi, kan?" Andri menyandarkan punggungnya ke dinding lantas menatapku dengan iba. "Kalau kamu masih ingin bersamanya kenapa kamu lepasin, An?"

Pandanganku mulai mengabur, "untuk apa meminta sesuatu yang kita tahu orang itu tidak ingin melakukannya," air mataku luruh juga akhirnya. "Aku emang pernah ingin menyerah kan? Aku pernah bilang aku pengin menyerah ketika aku sadar aku bukan prioritasnya dan aku tahu mungkin aku nggak akan jadi prioritasnya. Aku selalu ngerasa kangen sendirian. Anggap saja ini keinginan yang terkabul,"

"Tapi kamu nggak menyerah, kamu ditinggalin saat kamu yakin kalau cuma dia yang kamu butuhin. Kamu melepaskan dia,"

Ingin rasanya menghentikan obrolan yang kembali membuat luka ini.

"Perkara melepaskan memang nggak mudah, An. Jika kemudian menjadi mudah, bukan berarti rasa di hati telah memudar atau menghilang. Pada kenyataannya tidak ada yang bahagia melihat kesayangannya tidak bahagia,"

Andri tidak membalas.

"Aku tahu dia lebih bahagia kalau bersama orang pilihannya, makanya aku lepasin dia. Bukankah pecinta sejati ialah dia yang berani melepaskan!" aku menggores sedikit senyum untuk Andri. Biar kelihatan bangga.

"Kamu berubahnya banyak banget, An. Kamu jadi semakin kelihatan rapuh."

"Aku memang rapuh, An. Nggak ada orang yang benar-benar kuat. Yang ada ialah orang yang mampu bertahan di atas kesakitannya. Jadi kalau selama ini aku bilang aku kuat, itu cuma sugesti."

"Kamu juga lebih sering badmood-nya kalau denger apapun tentang dia dan orang pilihannya itu. Kamu masih cemburu?"

"Cemburu itu hadir saat kita merasa tidak memiliki. Dulu aku merasa memiliki dia sehingga aku membendung segala kecemburuanku,"

"Ya. Ya. Ya. Sebenernya kamu justru orangnya cemburuan banget. Waktu sama dia kamu bendung semua rasa kamu itu karena apa, kamu nggak mau mengenggam dia terlalu kuat. Kamu nggak mau nanti yang kamu genggam itu nyakitin kamu. Kamu cuma ingin menjaga dia dalam mangkuk tangan kamu. Tapi yang kamu nggak sadar, justru hal itu yang bikin orang lain mengambil dia dari kamu,"
Kampret bener nih Andri! Kenapa aku serasa seperti bicara dengan diriku yang lain?

"Dia pasti menyesal udah menyia-nyiakan gadis sebaik kamu, Anna."

"Jangan bilang begitu, An. Kamu bisa bilang seperti ini karena cuma aku yang kamu kenal. Kamu nggak kenal kan sama siapa yang dia pilih. Mungkin dia jauh lebih baik. Kan kamu sendiri yang bilang, nggak ada yang mau ngelepasin orang baik-baik,"

"Entahlah, An. Aku cuma nggak mau kamu terus-terusan begini. Kamu sedih terus sementara dia makin mesra sama pasangannya,"

"Aku nggak apa-apa kok, An. Aku cuma sedang meresapi hukuman yang dikasih Tuhan ke aku. Kalau kamu inget, aku kan pernah cerita kalau aku emang selalu minta sosok yang lebih baik dari dia, bukan berharap dia yang terbaik. Sekarang saat doaku terkabul aku merasa nggak ada sosok yang lebih baik dari dia. Jadi aku dihukum dengan kehadiran perasaan yang semakin dalam ini,"

"Makin lama kamu makin sayang, sementara dia sayangnya sama orang lain. Kamu sedih kalau dia bahagia-nya nggak sama kamu. Tapi kamu jauh lebih sedih kalau dia nggak bahagia. Maunya kamu apa sih?"

Aku menyeringai, "Aku mau dia juga dihukum. Kadang aku juga ngerasa nggak adil. Kenapa cuma aku yang dihukum atas niat jahatku pada awalnya. Aku yakin dia juga punya niat yang sama pada awalnya, tetapi mengapa dia nggak dihukum, ya An?"

"Kamu cuma nggak tahu apa hukuman Tuhan yang udah dia jalanin,"

Ah, benar juga. "Yang kamu nggak tahu, An. Aku selalu percaya kok sama takdir yang dikasih Tuhan
ke aku selalu baik. Aku udah lepasin dia, apa itu nggak cukup buat kamu?"

"Ayolah, An. Kamu jangan cuma ngelepasin dia, tapi lepasin juga perasaan kamu ke dia,"

Aku memejam dan menghirup sisa-sisa asap rokok di sekitar. "Ini yang nggak aku ngerti. Aku ngerasa ada pupuk yang terus datang kepadaku,"

"Tsk! Bicara soal hati emang nggak ada habisnya ya. Udah makan siang belum?"

"Aku lagi puasa," kemudian aku dan Andri keluar dari ruangan yang biasa dijadikan tempat merokok tersebut.

"An, aku sudah memutuskan untuk berhenti menulis tentang bintang inspirasiku,"

"Kenapa? Bukannya kalau kamu nulis tentang bintang itu, naskah kamu diterima terus ya?"

Aku tersenyum penuh misteri, "karena aku nggak mau bikin siapapun yang dateng nanti ngerasa nggak aku sayangi, lagi."

Aku melihat kerutan di dahi Andri. Kupikir dia nggak ngerti dengan apa yang aku bicarakan tadi.


Studio 5, Agustus 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jangan malu- malu untuk berkomentar. Silahkan berikan komentar terbaik anda ^_^ Xie Xie Ni