
"Kalau udah nggak bahagia, untuk apa bertahan?"
Aku hampir mati terkejut mendengarnya. Andri berdiri tepat di belakangku.
"Aku nyesel pernah ngomong kayak gitu ke kamu, An."
Aku mengerut dahi. Aku ingat sama kalimat itu dulu, tapi yang nggak kumengerti kenapa Andri bilang dia nyesal?
"Kenapa?" tanyaku seraya berbalik, menatap wajah yang katanya menyesal itu.
"Karena kamu jauh lebih nggak bahagia setelah pisah dari dia,"
Aku terdiam untuk sesaat. "Sok tau!"
Lantas dia tertawa, mengeceku seolah-olah aku sedang berusaha berkilah.
"Kalau kamu bahagia, kamu nggak mungkin sering ke tempat ini buat nangis,"
Sial! Dia bener, lagi! Harus ngeles gimana nih?




