Senin, 23 Mei 2016

A Little Story of 'Our Home'


Lama nggak nguprek-uprek ini halaman, jadi makin ngerasa bersalah.  Sebenarnya aku juga nggak enak ninggalin ‘rumah ini’ begitu lamanya sampai-sampai sawangnya bisa dimuseumkan. Halah!  Malah lebay-lebayan begini.
Selama ini aku belum juga menemukan topik menyenangakan untuk dibagikan di dalam blog. Bahkan sampai pertengahan tahun, tak satupun judul kuposting. Hebat banget, kan?
Don’t try what i've done if you still want to be a blogger!
Berhubung beberapa bulan terakhir aku lagi revisi naskah yang bertahun-tahun mengendap di dalam laptup, aku jadi kepikiran untuk ngangkat topik seputar proses menulis lagi dan lagi. Kali ini aku mau ngambil salah satu naskah yang udah aku posting ke akun wattpad-ku. Yang selama sebulan ini mati-matian kurevisi setelah setahun ngangkrak.

Senin, 12 Oktober 2015

Introducing Cast Of Pyaar Ke Liye

Hoaaa... Akhirnya setelah menanti dengan harap-harap cemas cover novel 'Pyaar Ke Liye' sudah keluar awal bulan oktober lalu. Senang sekali melihat hasilnya. Keren banget! Rasanya tidak sabar menimang novel tersebut.
Coba lihat deh!



Nah, berhubung tanda-tanda kelahiran 'Pyar Ke Liye' sudah terlihat, aku mau share sedikit tentang cast lead charachter di novel tersebut.

Jumat, 25 September 2015

Behind The Book 19 JMPS (Vivie Hardika)



Sebelumnya saya tidak pernah sekalipun berpikir untuk menulis buku non-fiction seperti buku bergenre how-to seperti 19 Jurus Mabuk Penulis Sukstress. Buku ini adalah buku nonfiksi pertama saya. Yang berupa antologi bersama 18 penulis keren lainnya.

Pertama kali redaksi Universal Nikko merekrut penulis untuk menuliskan buku nonfiksi tentang kepenulisan, saya antusias sekali meski dalam hati tidak begitu percaya pada diri sendiri. Saya memilih tata cara menulis teenlit, karena teenlit adalah genre novel yang banyak saya tulis. Saya akrab dengan genre teenlit oleh karena diantara 18 penulis hanya saya yang masih remaja. *abaikan caption barusan.

Berbeda dari buku-buku fiksi yang pernah saya tulis, buku ini tentu punya kisahnya sendiri. Tingkat kesulitannya pun berbeda. Saya harus benar-benar bekerja keras untuk naskah yang satu ini. Karena saya nggak mau pembaca yang membaca naskah nonfiksi saya ini tersesat dan tak tau arah jalan pulang. *nah loh malah karaokean.

1.       Berapa lama waktu yang kamu butuhkan untuk menuliskan naskahmu yang ada di buku 19 JMPS? Ceritakan proses kreatifmu ya, Ganks.
Jawab:
                Menuliskannya hanya beberapa jam. Tapi mengeditnya butuh waktu tiga hari. Kenapa begitu? Karena saya ingin naskah ini benar-benar… sempurna… *ala gitagut. #abaikan!
Mengedit adalah bagian paling sulit menurut saya bahkan menurut semua penulis yang berada di muka bumi ini. Mengapa saya kami bilang sulit? Karena dengan mengedit sama seperti mengulang kembali. Mencari tahu keakuratan dari riset yang kita masukkan ke dalam tulisan. Maka tidak jarang banyak penulis yang galau saat mengedit naskahnya sendiri.

2.       Kenapa kamu memilih untuk ‘menurunkan jurus’ yang kamu kuasai itu di dalam buku 19 JMPS?
Jawab:
                Karena… alasannya cukup sederhana. Agar saya memiliki penerus yang akan meneruskan langkah-langkah saya menulis. Agar (lagi) tak banyak inbox menanyakan ‘gimana sih caranya nulis?’, atau yang sering bikin galau, ‘ajarin bikin novel dong.’ Sekarang, karena jurusnya sudah turun dari langit ketujuh, maka saya tidak akan segan-segan lagi membalas berbagai pertanyaan mereka dengan, ‘semuanya terangkum dalam buku 19 JMPS, miliki segera!’ #aseeekkk *Sekalian promosi

Kamis, 27 Agustus 2015

Tolak (Masuk) Angin dengan Tolak Angin

Menulis bukan hanya sekadar hobi bagi saya. Menulis adalah sebuah kehidupan. Dunia bagi pelakonnya. Banyak orang yang ingin menjadi penulis, namun karena beberapa hal keinginan itu menjadi terbengkalai. Bukan karena ia tidak bisa meraihnya , karena mereka tidak menjadikan menulis sebagai bagian dari kehidupannya sehingga keinginan itu hanya sebatas angan saja tanpa tindakan yang nyata.

Menulis bukan hanya menghasilkan karya, namun juga proses membagikan apa yang kita ketahui kepada para pembaca. Alangkah bahagianya jika pembaca tersebut dapat menangkap hal positif dalam tulisan kita.

beberapa hasil dari menulis

Dan bagi seseorang yang telah menjadikan menulis sebagai dunia-nya, menulis bisa jadi tidak mengenal waktu. Selagi luang akan menulis. Begitupun saya. Ketika ide sedang bersliweran, saya langsung menuliskannya. Bisa berjam-jam dan sampai tak kenal waktu. Seringnya jadwal menulis saya hingga larut. Di jam-jam segitu biasanya ide muncul tak terduga-duga. Dan tak jarang saya begadang sampai demi menuntaskan hasrat menulis saya tersebut. Kebiasaan begadang inilah yang terkadang menimpulkan penyakit. Punggung jadi pegel, dan tak jarang pula suka masuk angin.



Karena takut diomelin dan dilarang menulis sampai larut—sementara semakin larut ide semakin hot—akhirnya saya nggak pakai koprol kepada orang tua. Saya langsung beli obat anti masuk angin di warung terdekat. Sebelumnya saya telah direkomendasikan oleh teman saya untuk membeli obat herbal tersebut. Selain harganya terjangkau, khasiatnya pun tidak cuma untuk masuk angin, tapi dapat juga menghilangkan pegal-pegal setelah semalaman begadang.



Jumat, 21 Agustus 2015

CATATAN ANAK BANGSA - SAVE OUR CHILDREN

Belakangan ini banyak bermunculan berita pelecehan terhadap anak di bawah umur. Pelakunya pun mencengangkan, guru sekolah, tetangga dekat, dan tak jarang pula pelaku pelecehan tersebut adalah anggota keluarga sendiri.
Miris sekali.

Orang dewasa yang seharusnya bisa melindungi malah memberikan luka yang mungkin akan selalu dikenang oleh korban. Mungkin bentuk pelecehannya bisa hilang dalam beberapa tahun, tapi trauma yang dialami korban mungkin tidak akan bisa hilang selamanya.
Terakhir yang sangat menghebohkan negara ini adalah kasus Angeline dari Bali. Yang tidak hanya menerima pelecehan seksual, tapi juga kekerasan sebelum akhirnya ia dibunuh. Alasannya pun berbelit-belit. Dan yang membuat geram adalah, pelaku tersebut adalah ibu angkat yang sedari bayi merah telah mengurusinya. Pertanyaan pun muncul. Di mana nuraninya sebagai seorang Ibu? Hingga tega menghabisi anak sekecil itu hanya karena harta warisan.
Tentu kita tidak ingin ada Angeline-Angeline lain di negeri ini bukan? Malaikat-malaikat kecil itu harus kita lindungi, bukan dijadikan korban pemuas nafsu belaka. Masa depan mereka masih panjang, jangan sampai pula perlakuan tidak pantas tersebut menghentikan langkah mereka di masa depan.
Apa jadinya bangsa ini jika tunas-tunas mudanya di negara ini sudah dirusak.

Selasa, 18 Agustus 2015

About Me



Lahir di Langga payung, Sumatera Utara, 5 Juni 1992. Mulai menulis di bangku SMP. Saat itu karya pertamanya masih berupa puisi dan berhasil terbit di koran lokal waktu itu. Menyusul, karya lainnya berupa cerpen pernah dimuat di beberapa media nasional seperti Tabloid Gaul, Gadis, Kiss dan Story. Novel yang sudah beredar antara lain:
SOLO:
1) Allien Cungkring (2010) 
2) True Love (2013) 
3) Satu Untuk Selamanya (2013)
4) Friend Zone Forever (2014)  
5) Keluarga Salah Gaul (2015)
6) Dilwale (2016)
7) Alien Cungkring (coming soon)

Duet:
1) KorbanPhp (feat Riana Dewi) (2014)

Antologi:
1) Cermin (2012)
2) I Miss You (2014)
3) 19 Jurus Mabuk Penulis Sukstress (2016)

Visit Vivie di:
Fanpage: Vivie Hardika
Twitter: @cacacungkring
Instagram: @xxcacacungkringxx
Wattpad: Viviehardika
LINE: Viviehardikadhawan

LEBARANKU YANG LEBIH BAIK


Setelah sebulan penuh menjalani ibadah puasa Ramadhan,  seluruh umat muslim di dunia merayakan hari kemenangan yang biasa disebut dengan Lebaran atau Idul Fitri. Takbir yang bertalu-talu sejak usainya sholat Isya hingga esoknya menjelang sholat Ied. Dan harapan ingin kembali dipertemukan oleh Ramadhan tahun depan terus digumamkan.  Hal yang paling sakral dalam perayaan lebaran sudah tentu ‘sungkeman’ di mana setiap orang mengharapkan maaf dari kerabat, teman atau tetangga agar dapat kembali menjadi suci. Seperti sebuah kertas kosong yang dapat kembali dicoret dengan goresan-goresan yang lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya.